Implementasi Shalat dalam Kehidupan

Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad tidak langsung diangkat Allah ke langit. Namun ada proses perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke

Ir Faizal Adriansyah MSi, Kepala LAN Aceh 2014-2022, dan Widyaiswara Ahli Utama LAN

ISRA Mi’raj yang terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-11 kenabian saat beliau berusia sekitar 51 tahun, adalah salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan agama Islam. Kalau kita menengok pada jejak sejarah Islam, paling tidak ada 4 tonggak penting yang harus kita ketahui sebagai seorang muslim. Pertama adalah Milad atau kelahiran  Nabi Muhammad SAW, kedua adalah Bi’tsah yaitu hari pelantikan Nabi Muhammad SAW, ketiga adalah Isra dan Mi’raj dan keempat adalah Hijrah.

Isra Mi’raj dan Hijrah adalah dua tonggak penting yang menggambarkan kebangkitan. Isra Mi’raj adalah kebangkitan secara individual dan Hijrah adalah kebangkitan secara kolektif (keumatan) yang mengantar pada Fathul Makkah dimana tegaknya nilai-nilai tauhid hingga akhirnya pada saat Nabi haji wada Allah menyatakan bahwa Islam telah sempurna (QS. Al Maidah ayat 3).

Isra Mi’raj adalah salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang unik dan sangat khas. Tidak seperti kebanyakan mukjizat para Nabi dan Rasul, dimana mukjizat bisa disaksikan oleh yang hadir saat itu. Misalnya saat Nabi Musa membelah laut merah dengan tongkatnya, Nabi Shaleh bisa mengeluarkan unta dari dinding batu, Nabi Isa bisa menyembuhkan orang sakit kusta, orang buta dari lahir bahkan sampai menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Namun mukjizat Isra Mi’raj tidak ada orang yang melihat dan menyaksikannya. Nabi Muhammad saw hanya menceritakan apa yang telah beliau alami pada pagi hari 27 Rajab tahun ke-11 kenabian di hadapan Abu Jahal dan masyarakat Mekkah. Seusai Nabi Muhammad menceritakan perjalanan yang beliau alami dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dan kemudian beliau naik ke langit maka terjadi kegaduhan di khalayak ramai.

Mengapa terjadi kegaduhan dan bahkan perdebatan waktu itu? Hal ini cukuplah menjadi bukti kuat bahwa apa yang Nabi ceritakan bukanlah sebuah mimpi, karena tidak ada mimpi yang diperdebatkan. Peristiwa Isra Mi’raj, diberitakan Allah salah satunya dalam surah Al Isra ayat 1. “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”.

Makna “Subhana” Maha Suci Allah dalam awal surah ini menegaskan bahwa peristiwa yang Nabi alami adalah benar-benar terjadi dan Nabi alami dalam keadaan sadar sebagai manusia, bukan mimpi, bukan perjalanan ruh seperti orang bersemadi. Para mufasir menegaskan bahwa apabila Allah mengawali ungkapan dengan ‘Maha Suci Allah” maka perbuatan tersebut adalah dahsyat dan hanya bisa terjadi karena kehendak Allah.

Karena itu Memahami Isra dan Mi’raj yang paling utama adalah dengan mengedepankan iman, karena apa yang terjadi sulit dicerna akal. Inilah yang dicontohkan oleh sahabat Abu Bakar ketika beliau didatangi tokoh Quraisy yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad sudah “gila” karena menceritakan perjalanan yang tidak masuk akal. Tokoh Quraisy berharap Abu Bakar menjadi goyah keyakinannya dan akan meninggalkan Nabi Muhammad. Namun mereka kecewa sambil menggigit jari, ternyata jawaban Abu Bakar di luar perkiraan mereka.

Abu Bakar berkata, “Kalau itu yang diceritakan Muhammad maka aku percaya, lebih dari itu pun aku percaya”. Kemudian Abu Bakar melanjutkan, “Ketahuilah selama ini semua berita dari langit yang disampaikan Muhammad aku percaya, maka demikian dengan kisah yang kalian sampaikan aku percaya apa yang dikatakan Muhammad adalah benar.“ Sehingga Nabi memberinya gelar Abu Bakar Ashidiq. Demikian dengan kita umat Islam saat ini dan sampai kapan pun meyakini kebenaran Isra dan Mi’raj ini adalah dengan mengedepankan iman.

Sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat canggih, namun fenomena Isra dan Mi’raj tetap tidak dapat dijelaskan semata dengan pendekatan sains dan teknologi, banyak hal yang ilmu pengetahuan belum bisa menjawabnya. Namun kita beruntung hidup di abad ini paling tidak inspirasi kebangkitan peradaban yang kita saksikan sesungguhnya sudah Nabi lakukan dalam kisah Isra dan Mi’raj.

Seperti pembedahan dada Nabi erat terkait dengan dunia medis, kendaraan Buraq menginspirasi transportasi cepat menyelesaikan masalah jarak dan waktu. Visual masjid Al Aqsha yang dapat Nabi lihat dari Mekkah ketika Nabi didesak oleh orang kafir untuk menggambarkan masjid Al Aqsha. Maka beliau bisa menjelaskan karena di hadapan beliau Allah tampilkan visual masjid Al Aqsha.

Peristiwa ini menginspirasi dunia yang kita alami saat ini dengan video call, zoom meeting, teleconference. Karena itu dapat kita katakana bahwa kisah Isra dan Mi’raj memiliki pesan peradaban masa depan yang hari ini terbukti.

Indikator shalat

Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad tidak langsung diangkat Allah ke langit. Namun ada proses perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, serta proses perjalanan vertikal naik ke langit menuju ke hadirat Allah swt. Mengapa Allah menyebut secara jelas masjid Al Aqsha? Hal ini mengisyaratkan bahwa masjid Al Aqsha adalah milik kaum muslimin.

Halaman selanjutnya

Halaman

12

BERITATERKAIT

Ikuti kami di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *