Kapal Tol Laut Kembali Berlayar ke Aceh, Ini Komoditas yang Dibawa

Angkutan kapal Tol Laut yang merupakan program Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI akan kembali berlayar dari Jakarta ke Aceh…

Laporan Muhammad Nasir I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Angkutan kapal Tol Laut yang merupakan program Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI akan kembali berlayar dari Jakarta ke Aceh, hari ini, Rabu (13/2/2024). Pelayaran kali ini merupakan yang ketiga kalinya pada 2024.

Program Tol Laut yang akan dilayani oleh kapal KM Kendhaga Nusantara 14, akan berlayar dengan rute Tanjung Priok – Patimban – Lhokseumawe – Malahayati – Patimban – Tanjung Priok. Pada, Rabu (14/2/2024), kapal akan bertolak dari Tanjong Priok, lalu pada, Sabtu (24/2/2024) akan kembali dari Pelabuhan Malahayati Krueng Raya menuju Tanjong Priok Jakarta.

Kabid Laut Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, M Al Qadri mengatakan, kapal dari program Tol Laut Aceh sudah berlayar sebanyak 2 dalam tahun ini. Sebelumnya, kapal itu bertolak dari Aceh pada 20 Januari dan 3 Februari 2024. Kedatangan kali ini merupakan yang ketiga kalinya.

Katanya, dalam pelayaran dari Jakarta ke Aceh, kapal itu membawa berbagai macam kebutuhan untuk warga Aceh. Dari dua pelayaran sebelumnya, KM Kendhaga Nusantara mengangkut beras milik Bulog dan kebutuhan rumah tangga milik produsen Wings, guna dipasarkan.

Saat kembali ke Jakarta, kapal itu hanya mengangkut ikan beku milik PT Perikanan Indonesia (Perindo), yang diambil dari unit pengolahan di PPS Kutaraja, Lampulo, Banda Aceh. “Dalam sekali berlayar dari Aceh, kapal Tol Laut ini menangkut 13 ton ikan beku dari Aceh ke Jakarta. Sebenarnya bisa dua kali lipat yang diangkut, tapi karena ada satu kontainer reefre yang rusak, maka cuma bisa mengangkut 13 ton,” ujar Al Qadri.

Al Qadri mengatakan, program tol laut ini akan membuka pelayaran rutin ke Aceh. Namun ia menilai komoditas yang diangkut dari Aceh ke Jakarta sangat minim. Bahkan, belum terlihat ada produk-produk hasil pertanian dan perkebunan yang diangkut ke Pulau Jawa lewat kapal itu. Sehingga jumlah muatan saat kapal tiba dan kembali terjadi ketimpangan.

Menurutnya, salah satu penyebab minimnya komoditas yang bisa diangkut, karena tidak adanya pelaku usaha yang mengumpulkan komoditas itu dalam jumlah besar di Aceh. Padahal Aceh memiliki potensi untuk komoditas seperti jagung, kopi, hingga cengkeh.(*)

BERITATERKAIT

Baca Juga

Ikuti kami di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *