Robohnya Suara Kami

Salah satu bentuk “transaksi egoistis” yang paling populer saat ini adalah money politic. Praktik ini kian menjamur dan terus berkecambah hampir di se

Khairil Miswar, Penulis Buku Demokrasi Kurang Ajar

PADA 1950-an, seorang sastrawan ternama Indonesia AA Navis menulis cerpen dengan tajuk “Robohnya Surau Kami.” Cerpen sosio-religi ini berkisah tentang kematian tragis seorang kakek penjaga surau setelah mendengar cerita dari seorang pembual bernama Ajo Sidi.

Dalam ceritanya kepada si kakek, Ajo Sidi mengisahkan tentang sosok bernama Haji Saleh, seorang alim yang taat beribadah, tapi abai pada kondisi sosial di sekitarnya.

Akibatnya ketika sudah berada di akhirat, Haji Saleh dimasukkan ke dalam neraka. Di sana dia bertemu dengan orang-orang saleh lainnya dan kemudian melancarkan protes pada Tuhan. Lalu Tuhan menegaskan kepada Haji Saleh bahwa kesalahan mereka bukan karena kurangnya ibadah, tapi karena mereka bersikap egois dan individualis yang menyebabkan mereka sendiri dan masyarakat di lingkungannya mengalami kemelaratan duniawi.

Cerpen ini hendak menyampaikan pesan bahwa seseorang belum dianggap melakukan kebaikan jika dia hanya fokus pada kesalehan individual yang hanya berguna untuk dirinya sendiri. Idealnya, predikat kebaikan baru akan didapatkan jika seseorang memadukan kesalehan individual dan kesalahen sosial, sehingga kesalehan itu memiliki dampak sosiologis bagi masyarakat luas.

Dalam hal ini, seseorang dituntut untuk tidak bersikap egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri, tapi juga memiliki kewajiban untuk memperhatikan kepentingan umum alias kemaslahatan bersama.

Egoisme dalam Kontestasi Elektoral

Secara lebih luas, sikap egois yang digambarkan AA Navis dalam cerpennya tersebut juga menemukan wujudnya dalam politik elektoral kita dewasa ini. Sikap egois tersebut bisa ditemukan pada sosok politisi dan juga pada masyarakat pemilih, di mana ada sejumlah oknum yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi dan mengorbankan kepentingan umum yang didorong oleh adanya pertemuan antara kepentingan satu individu (politisi) dengan individu lainnya (pemilih). Dalam “pertemuan kepentingan” inilah “transaksi egoistis” itu terjadi.

Salah satu bentuk “transaksi egoistis” yang paling populer saat ini adalah money politic. Praktik ini kian menjamur dan terus berkecambah hampir di semua daerah. Seperti kita lihat, dengar dan baca, dugaan praktik money politic ini terjadi dalam semua level pemilihan, mulai dari calon kepala desa, calon legislatif sampai dengan posisi-posisi eksekutif di atasnya semisal bupati, gubernur dan bahkan presiden.

Yang menjadi masalah kemudian adalah sulitnya pembuktian karena para pelaku memiliki trik dan strategi tersendiri dalam menjalankan aksinya sehingga sulit terendus.

Dalam aksi money politic ini, spirit Haji Saleh yang egois dalam cerpen AA Navis bukan saja menyusup dalam pikiran oknum politisi, tapi juga merasuk dalam pikiran sebagian masyarakat pemilih, di mana keduanya memiliki korelasi yang cukup kuat.

Bagi oknum politisi kapitalistik, money politic adalah satu strategi untuk meraih kemenangan, sementara bagi masyarakat materialistik, money politic adalah kompensasi atas dukungan yang ia berikan.

Dalam hal ini kedua pihak merasa sama-sama memiliki kepentingan (sama-sama egois dan mementingkan diri sendiri) sehingga praktik tersebut pun kian subur dan sulit diberantas.

Caleg yang berguguran

Halaman selanjutnya

Halaman

12

BERITATERKAIT

Ikuti kami di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *