Saatnya UMKM Menggunakan ‘Microservice’

MICROSERVICE adalah pendekatan dalam pengembangan perangkat lunak di mana sebuah aplikasi dibangun sebagai kumpulan dari layanan-layanan kecil dan man

AHMAD ZAKY, Mahasiswa Program Studi Informatika MIPA Universitas Syiah Kuala (USK), melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

MICROSERVICE adalah pendekatan dalam pengembangan perangkat lunak di mana sebuah aplikasi dibangun sebagai kumpulan dari layanan-layanan kecil dan mandiri yang beroperasi secara independen.

Setiap layanan dalam arsitektur mikro memiliki tanggung jawab tertentu dan berkomunikasi melalui protokol yang ringan seperti HTTP atau protokol komunikasi yang sesuai. Dibandingkan dengan pendekatan monolitik, di mana keseluruhan aplikasi dibangun sebagai satu unit tunggal, pendekatan mikro memungkinkan pengembang untuk memisahkan fungsionalitas aplikasi menjadi unit-unit yang lebih kecil dan terpisah.

Untuk memfasilitasi pengembangan, pengujian, dan pemeliharaan yang lebih mudah serta memungkinkan eskalasi yang lebih baik karena setiap layanan dapat di-deploy, di-scale, dan di-maintain secara independen.

Keuntungan lain dari pendekatan mikro adalah kemudahan dalam menerapkan teknologi yang berbeda untuk setiap layanan, memungkinkan pengembang untuk memilih teknologi yang paling sesuai untuk setiap kebutuhan tertentu. Namun, pendekatan ini juga memperkenalkan kompleksitas tambahan dalam manajemen infrastruktur, koordinasi antarlayanan, dan pemantauan sistem secara keseluruhan.

Perkembangan teknologi digitalisasi di era Revolusi Industri 4.0 melaju begitu cepat, yaitu era menggunakan teknologi berbasis online dalam mengembangkan bergai kegiatan bisnis. Namun, tidak semua pelaku usaha paham dalam mengembangkan bisnis, terutama untuk bisnis online maupun bisnis yang dilakukan secara offline.

Perkembangan teknologi akhir-akhir ini telah memasuki berbagai lini aspek kehidupan, mulai dari belajar online, transaksi online, maupun berbisnis online.

Pengusaha yang sedang merintis usahanya sangat memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat menjalankan kegiatan dengan baik, cepat, dan lancar. Untuk itu, sangat diperlukan bimbingan serta referensi sebagai rujukan agar dapat menjalankan usaha dengan lancar. Harapannya, para pengusaha akan berusaha optimal agar ia memperoleh ilmu pengetahuan dari berbagai sumber sehingga ia memperoleh ilmu pengetahuan yang mana dengan ilmu tersebut dapat membantu mereka dalam membangun usahanya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak pebisnis pemula gulung tikar bukan karena tidak memiliki cukup modal, melainkan lebih kepada minimnya ilmu dalam membangun usahanya. Setelah ilmu bisnis dikuasai kembali lagi mereka terkendala dalam mengakses modal untuk pengembangan usahanya. Lingkaran setan yang menghambat tumbuhnya kegiatan usaha perlu diputuskan dengan pendekatan ‘microservice’.

Model bisnis online merupakan pihan utama di era teknologi sekarang ini, di mana para pebisnis tidak dipersyaratkan untuk memiliki modal besar dalam membangun usaha sekarang ini. Telepon genggam atau ‘gadget’  serta alat elektronik lainnya sekarang ini menjadi barang wajib dalam membangun komunikasi bisnis. Dengan alat komunikasi tersebut tentu akan memperlancar kegiatan usahanya sehingga dapat meraup keuntungan.

Banyak usaha merugi dikarenakan pembengkakan terhadap biaya operasional. Sehingga, membuat para pengusaha terlilit utang yang menyebabkan beban  semakin bertambah dalam menjalankan usaha. Dengan semakin bertambah beban tentu juga akan semakin besar risiko serta masalah yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan usaha.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah usaha ekonomi produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. Dengan kedudukan yang sangat strategis tersebut, membuat UMKM menjadi pilar utama penyokong ekonomi Indonesia. Lebih dari 90 persen ekonomi Indonesia dilaksanakan oleh UMKM. Namun, aset yang dimilikinya kurang dari 10?ri total aset yang ada. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa UMKM belum dapat berbuat banyak di negerinya sendiri.

Saat pandemi Covid-19 sejak 2020-2022 UMKM menjadikan momentum tersebut untuk meneguhkan diri untuk masuk dalam bidang yang menggunakan proses produksi dengan teknologi yang mumpuni. Kondisi pandemi membuat semua pihak terhalang untuk beraktivitas kontak fisik. Dari pengalaman tersebut, banyak pihak sudah mulai membatasi diri untuk tidak terjadi kontak langsung dalam bertransaksi. Di saat situasi penuh dengan ketidakpastian,  jasa telekomunikasi cukup terasa peningkatan dan menjadi salah satu cara yang efektif untuk transaksi secara online.

Untuk dapat meringankan beban usaha, maka sangat diperlukan pembentukan ‘crowdfunding’ oleh pemerintah daerah agar para pelaku UMKM mendapatkan modal dari pemodal atau investor. Inisiatif pembentukan ‘crowdfounding’ merupakan salah satu alternatif agar memperoleh kemudahan dalam bertransaksi serta penyaluran modal yang tepat bagi pelaku UMKM.

Halaman selanjutnya

Halaman

12

BERITATERKAIT

Ikuti kami di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *