Gegara Garuk Kepala saat Mengemudi, Pria Ini Didenda Rp 6,4 Juta karena Kesalahan Tilang Elektronik

Nasib malang dihadapi seorang pria ini, dia didenda hingga 380 euro (Rp 6,4 juta) akibat kesalahan tilang elektronik hanya karena gegara garuk kepala

SERAMBINEWS.COM – Nasib malang dihadapi seorang pria ini, dia didenda hingga 380 euro (Rp 6,4 juta) akibat kesalahan tilang elektronik hanya karena gegara garuk kepala saat mengemudi.

Sistem mengira, si pria tersebut sedang berbicara sambil memegang ponsel dan mengemudi di jalan raya yang merupakan salah satu jenis pelanggaran lalu lintas, ternyata terjadi “false positive” atau kesalahan algoritma pada kemera pengintai.

Dilansir dari Oddity Central, Kamis (22/2/2024) pada November lalu seorang pria asal Belanda, Tim Hansen menerima denda karena diduga berbicara di ponselnya saat mengemudi sebulan sebelumnya.

Dia terkejut, terutama karena dia tidak ingat menggunakan ponselnya saat mengemudi pada hari itu, jadi dia memutuskan untuk memeriksa foto yang memberatkannya di pengadilan.

Pada pandangan pertama, tampaknya Hansen memang sedang berbicara di teleponnya, tetapi jika dilihat lebih dekat terlihat bahwa dia sebenarnya tidak memegang apa pun di tangannya.

Dia hanya menggaruk bagian samping kepalanya dan kamera salah mengira posisi tangannya sedang memegang telepon.

Yang lebih membingungkan lagi adalah orang yang memeriksa foto tersebut dan memvalidasi dendanya juga tidak menemukan “positif palsu” atau kesalahan algoritma.

Hansen yang kebetulan bekerja di bidang IT, membuat algoritma yang mengedit dan menganalisis gambar, menggunakan pengalaman pribadinya untuk menjelaskan cara kerja sistem kamera polisi, Monocam atau CCTV, dan mengapa bisa membuat kesalahan.

Meskipun dia tidak bisa menguji CCTV sendiri, dia menjelaskan bagaimana sistem ini dirancang untuk bekerja dan mengapa sistem ini dapat menghasilkan positif palsu.

“Jika suatu model harus memprediksi apakah sesuatu itu ‘ya’ atau ‘tidak’, tentu saja bisa saja model tersebut salah,” tulis Hansen.

“Dalam kasus tiket saya, modelnya menunjukkan bahwa saya sedang memegang telepon, padahal tidak demikian,” sambungnya.

Baca juga: Divonis Kanker, Alice Norin Lega tak Perlu Operasi Angkat Rahim: Kesempatan Kedua Dalam Hidup

Baca juga: Buntut Masalah dengan Rieta Amilia, Gideon Tengker Ngotot Penjarakan Nagita Slavina dan Caca

“Kemudian kita berbicara tentang positif palsu. Model yang sempurna hanya memprediksi hal positif dan negatif yang sebenarnya, tetapi prediksi yang 100 persen benar jarang terjadi,” tambah ahli IT itu.

Dia menjelaskan, sistem seperti CCTV harus dilatih pada sekumpulan besar gambar yang dibagi menjadi dua atau tiga kelompok: set pelatihan, set validasi, dan set pengujian.

Set pertama digunakan untuk mengajarkan algoritma objek mana yang ada pada gambar apa dan properti mana (warna, garis, dll.) yang dimilikinya.

Set kedua, untuk mengoptimalkan sejumlah hyper-parameter algoritme, dan set ketiga untuk menguji seberapa baik sistem sebenarnya bekerja.

(Serambinews.com/Sara Masroni)

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

BERITATERKAIT

Baca Juga

Ikuti kami di

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *